Senin, 24 November 2014

As We Do

Do you know the feeling of having a sudden shock for missing your purpose?
It’s like one day, you wake up in the morning, brush your teeth, get dress, stare at the mirror, look at your reflection for a moment and suddenly get stung with this question which is actually been dangling in your mind for a while.
Ask yourself: What’s your life’s vision?

Walking down the hallway, taking a glance at some people, having a glimpse about things you want to do in the future, thinking about how today will turn out to be… Did you ever think about those all at once? For me, all of those things happen at the same time, every morning during my walk to campus and class.

It seems like I’m trying so hard to get everything settled without knowing where I am, for sure. I feel so far away from reaching my best. I keep asking myself about what is wrong with me, will I be able to fight my laziness if I keep doing the same pattern, what is my point of doing all those daily activities, have I done my best—which of course, I have not at all—am I going to be the change that I want to be in this world and so on…
Then, I just got stung again with this question that shattered most of my thoughts above.
“Unless I ask the right question to myself, how can I find the right answer?”

Think about this: Why are you doing what you do everyday?
Ask yourself, whether this bustling world—which is made by laborious people—has made you not aware of essential things in life.
No, wait. This is the former question that you have to know the answer, first.
“Do you really know and understand what are the essential things in life?” In your life, to be exact.
Thenceforth, ask yourself again: Have I realized what is the essence of everything that I do or I’ve done? Am I not losing the essence of this life?
Don’t forget to make sure of it.

There’s a simple conclusion related to the things that we do everyday without oppugning much.
We automatically do what we think we have to do.
We feel that we must do it, since it’s like a conformity in the society. We have this mechanic urge to achieve what the world tends to admire or amaze about, or simply, we are afraid to be different. We are shaped by this society which seems so assiduous. ‘Assiduous’ as we may say, but ironically, we’re also like a walking zombie. Don’t you ever feel like walking in void?

Well, let’s end this colloquy—wait, or is this a soliloquy?
I hope this bunch of words can be a straight-out reflection for those who read it.
Well, maybe what is written here is not that obvious, since each of us needs to find our own clarity. I purposely leave all the questions unanswered and no longer recital, so that those who read this can elaborate the questions and answers by their own.

Make your life meaningful.
Lead an awesome life! J



Minggu, 31 Agustus 2014

Aku Selalu

Jikalau kamu berdiri di sini, di hadapanku, dan bertanya seberapa besar aku mencintaimu...
Aku akan meminta kamu untuk menengadah ke atas melihat langit yang membentang luas menaungi kita.
Seraya kamu memandang langit, aku akan mengatakan bahwa sebesar itulah aku mencintaimu.

Jikalau kamu berdiri di sini, di hadapanku, dan bertanya seberapa besar aku merindukanmu...
Aku juga akan meminta kamu untuk menengadah ke atas melihat langit yang membentang luas menaungi kita.
Seraya kamu memandang langit, aku akan mengatakan bahwa sebesar itulah aku merindukanmu.

Aku tahu, langit masih bagian dari dunia ini. Dan apapun yang ada di dunia ini, itu terbatas. Namun, kumohon, jangan lihat dari sisi waktu dan kapasitas.

Lihatlah, dari sisi ini:

Langit. Membentang luas hingga ke berbagai pelosok dan penjuru dunia. Ke manapun dan di manapun, kamu, aku, kita, kalian, mereka akan selalu dinaungi oleh langit. Langit selalu membentang di atas kita di manapun kita berada, ke manapun kita pergi, dan kapanpun kita bertindak.

Itu berarti...
Ke manapun, di manapun, dan kapanpun kita bernapas, selama kita masih diizinkan untuk hidup dan berpetualang, aku akan selalu mencintaimu dan merindukanmu.

Aku selalu mencintaimu dan merindukanmu.


Jumat, 29 Agustus 2014

Cuap-Cuap Santai

Udah lama banget gue gak nge-blog. Kangen, sih... Tapi gak berasa kehilangan banget. Mungkin karena udah terbiasa kali, ya. Awalnya berasa ada yang hilang, tapi lama-lama gak terlalu berpengaruh juga dan malah pudar begitu aja semangat untuk menulis, mengetik lagi.

Yaaa.. Begitulah. Semangat dan kemauan yang kita sendiri tidak jaga, bisa hilang begitu saja kalau kita menuruti kemalasan yang terus bercokol dalam tiap pribadi kita.

Di tulisan kali ini, gue mau santai-santai aja. Liat aja dari bahasa gue yang super acak-kadul.

Oiya, ada kabar gembira yang belum gue kasi tau. (Bukan Mastin si ekstrak kulit manggis, pastinya. Basi banget itu lelucon.)

Sahabat gue dan....gue....hanya oleh karena anugerah Tuhan....DITERIMA di kampus impian kami. Kampus yang telah kami dambakan semenjak duduk di bangku kelas 10. Iya, dari SMA 1. Kampus yang membuat kami selama SMA terus mengembangkan imajinasi kami jikalau berkuliah di sana. Kampus yang khas dengan makara kuningnya. Kampus yang disebut sebagai "Kampus Perjuangan". Satu-satunya kampus yang pakai nama 'Indonesia'.

UNIVERSITAS INDONESIA.

UI ohhh UI ohhh UI!!!
'JAKUN' alias jaket kuning bukan lagi di depan sana untuk diraih, melainkan jakun sekarang ada di depan mata untuk...DIPAKAI. :D

Sesuai dengan harapan gue, gue diizinkan untuk mengenyam pendidikan di UI untuk 4 tahun ke depan. (Amin, kalo 4 tahun dan bisa cum laude. Tapi katanya Antrop lulus lama.. Setiap orang yang gue tanyain, kayak pasrah ato "syukur-syukur lulus" gitu. Kalo yang bisa 4 tahun itu disembah-sembah, rata-rata itu 4,5 tahun.)

Jujur, gue takut. Takut nanti gak mampu. Di satu sisi, gue percaya juga Tuhan pasti akan memapukan. I believe that as long as I keep leaning on Him, knowing that I'm nothing without Him and asking for His help, He will always strengthen me.

Gue juga mau menghidupi kutipan ini dari seorang dosen yang berorasi waktu OKK (acara ospek universitas):
"Jangan cuma numpang pakai brand 'UI'. MILIKI BRAND-MU SENDIRI!"

Terus, kutipan dari ketua BEM FISIP UI tahun ini juga.
"Jadilah bermanfaat!"

Gue sangat berharap teman-teman sefakultas dan gue bisa jadi bermanfaat. Gue gak mau jadi sampah yang cuma mondar-mandir di UI, gak bisa bertanggung jawab atas anugerah yang udah diberikan. Masih banyak banget orang yang di luar sana yang mungkin mau banget masuk FISIP UI, yang mungkin jauh lebih layak masuk UI dibanding gue.

Masuk UI... Senang banget. Sesuai harapan gue, di sini menemukan diversity. Sangat bayak perbedaan. Begitu beragam, begitu berwarna. Karena mahasiswa-mahasiswi di sini berasal dari berbagai latar belakang budaya, keluarga, daerah. Gue menemukan orang-orang dengan kisah yang selama ini cuma ada di imajinasi gue kayak di film-film atau novel. Wew sekaligus Wow! :)

Oiya, ada dua kata yang gue suka banget dari lagu 'Mars FISIP UI' :

"...Mercusuar peradaban..."

Bagus banget, kan? Cahaya yang menuntun kehidupan, zaman... Jadilah cahaya yang menuntun kehidupan masyarakat. Gak cuma menuntun, tapi juga memperlihatkan batas, menjadi penanda. Menjadi penuntun dan penjaga.

Sekian dulu, deh cuap-cuap gue. Random banget, ya? Hahaha

Have a great life!


Selasa, 26 Agustus 2014

Perjuangan Mereka yang Melebihi Kepedulian Pemerintah

Seperti yang ditegaskan dalam UUD 1945 pasal 31, pendidikan adalah hak bagi setiap warga negara. Namun, masih banyak anak-anak Indonesia yang tidak mendapatkan pendidikan yang sewajarnya dikarenakan masalah dana, akses, infrastruktur, dan lain-lain. Masalah itu bukan lagi sesuatu yang asing bagi kita.
Sebagai cara untuk menjawab permasalahan tersebut, Sekolah Master yang berada di Depok, bersedia mengajari anak-anak marginal dengan gratis. Dengan semangat untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak kurang mampu, Sekolah Master berdiri dan berkembang.
Nama ‘Master’ sendiri diambil dari  ‘masjid terminal’ yang dekat dengan di mana sekolah itu dibangun. Berawal dari perkumpulan pemuda masjid yang peduli untuk mengajar anak-anak jalanan di sekitar terminal, Sekolah Master berdiri dan bertumbuh untuk menjangkau lebih banyak anak marginal. Sekolah ini menerima siapapun yang ingin belajar, entah itu anak jalanan ataupun anak-anak yang tidak mampu melanjutkan biaya studi di sekolah negeri. Selama siswa ada kemauan belajar, Master akan fasilitasi. Kelas TK-SMA ada di Master dan dibuka dari pagi sampai malam dengan jadwal tertentu.
Meskipun sekolah ini bertujuan mulia, ada berbagai hambatan yang menjadikan sekolah ini harus bergelut, berjuang mempertahankan keberadaannya. Hambatan pertama adalah masalah kurang memadainya infrastruktur yang ada. Namun, hal itu kurang lebih dikarenakan sumber dana yang minim dan sangat kurangnya dukungan pemerintah. Sumber dana itu pun murni hanya berasal dari para donatur. Para guru dan staff juga adalah sukarelawan. Kedua, adalah masalah lingkungan. Anak-anak harus dididik lebih ekstra karena sehari-hari hidup dekat lingkungan premanisme dan tindak penyimpangan sosial lainnya. Ketiga, yaitu soal pemerintah kota yang akan menggusur Sekolah Master. Hal itu dikarenakan menurut tata ruang wilayah kota Depok, daerah itu akan dijadikan pusat grosir. Meskipun Master telah memilik surat izin sejak tahun 2007 dan telah diadakannya akomodasi dengan walikota yang diliput media sosial, bagian SD dan SMP di Master akan tetap terkena gusur. Pemerintah mengatakan akan memindahkan Sekolah Master, tetapi belum diberi tahu di mana lokasi tepatnya. Selain itu, hal tersebut juga menjadi kendala karena jikalau pindah tempat, harus dimulai dari nol lagi dan hal itu sangat sulit. Keempat, yaitu mengenai perolehan ijazah untuk siswa yang akan lulus. Hal itu disebabkan oleh bayaran yang sangat minim kepada dinas, ijazah pun dipersulit, entah itu ditidakluluskan atau nilainya diturunkan. Jika ditinjau ulang, dapat terlihat bahwa hambatan-hambatan Master berasal dari eksternal. Kalaupun masalah infrastrukur, hambatan internal, dapat dikatakan bahwa itu pun terkait dengan masalah eksternal.
Mengetahui fakta-fakta tersebut, saya pribadi, kecewa dengan perlakuan pemerintah kota, khususnya dinas. Pemerintah yang seharusnya mengayomi anak-anak yang kurang dan membutuhkan, malah mempersulit organisasi sosial yang peduli terhadap anak-anak marginal itu. Jikalau bicara tentang lokasi Master terkait dengan tata ruang wilayah yang ada, mungkin memang pemerintah ingin merapikan Depok. Namun, seharusnya Sekolah Master diberi kepastian di mana lokasi selanjutnya untuk bisa tetap menjangkau anak-anak yang kekurangan dan yang telah belajar di sana. Pemerintah seharusnya juga memfasilitasi, bukan mempersulit. Dinas yang seharusnya menolong anak-anak Indonesia untuk memperoleh pendidikan, malah mempersulit ijazah hanya karena masalah uang atau kurang bayaran.
Sebenarnya masalah serupa tak jarang lagi terjadi. Banyak juga sekolah di daera-daerah lain di Indonesia yang mendapatkan kesulitan serupa dari dinas. Mungkin orang-orang pemerintah itu meragukan kualitas siswa-siswi yang ingin diluluskan, tetapi apakah itu jawaban untuk keraguannya? Di mana peran mereka yang seharusnya memperjuangkan pendidikan untuk masyarakat Indonesia terlepas dari apa latar belakang sang siswa?
            Fenomena Sekolah Master ini merupakan satu dari sepersekian ribu sekolah kecil yang ada di berbagai penjuru di Indonesia. Melihat fenomena sosial yang seperti ini, akankah kita sebagai penerus generasi muda bangsa tetap berpangku tangan, tidak terlalu mementingkan pendidikan di Indonesia? Akankah kita tetap memberikan kritik tanpa melakukan aksi? Akankah kita tetap bersandar penuh pada pemerintah dan membiarkan pemerintah yang bertanggung jawab, meskipun kita telah tahu masih bobroknya karakter pemerintahan di Indonesia? Di mana lagi mata yang celik untuk melihat bahwa pendidikan sangat penting untuk pembangunan Indonesia jangka panjang? Melihat perlakuan dinas yang seperti itu, apa sebenarnya kriteria kelulusan untuk anak-anak Indonesia? Apa standar kelulusan untuk anak-anak bangsa?

Kembali pada persoalan Master. Solusi yang bisa saya tawarkan sebagai mahasiswa baru yang masih minim dalam berpikir adalah lebih mengenalkan Master kepada warga-warga sekitar lewat media sosial, sosialisasi langsung, dan acara-acara pameran karya anak Master. Lewat media sosial, para pengurus Mater bisa mengedepankan informasi-informasi tentang Master, kepedulian Master terhadap anak-anak marginal di Depok, share foto-foto kegiatan anak-anak Master, dan lan-lain. Hal itu bisa dilakukan untuk menarik hati pembaca agar ikut sadar betapa pentingnya pendidikan dan bahagianya anak-anak itu memperoleh pendidikan. Tak hanya itu. melalui sosialisasi langsung, para pengurus Master juga bisa melakukan orasi-orasi singkat untuk mengajak dan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pendidikan bagi generasi muda dan apa visi misi tujuan Master yang berkaitan dengan mencerdaskan anak bangsa. Selain itu, Master seharusnya bisa mengadakan acara pameran karya-karya anak Master. Misalnya, dalam bidang menulis dan menggambar. Hal itu sebagai bukti dan menunjukkan kepada warga dan para pendatang bahwa kegiatan yang dilakukan di Master benar-benar edukatif, serta mengajar anak untuk berkarya. Dengan begitu, berserah kepada Yang Maha Kuasa, semoga ada banyak mahasisa cerdas yang ikut menjadi volunteer sebagai pengajar.
Selamatkan Sekolah Master!






Jumat, 20 Juni 2014

Tak Butuh Serbuk Peri

Bahkan ketika seharusnya kau bersenang-senang,
Kau malah mendampingiku memecahkan persoalanku.

Bahkan ketika seharusnya kau yang kesal,
Kau malah membuatku tersenyum.

Bahkan ketika seharusnya kau yang risau,
Kau malah membuatku tertawa.

Bahkan ketika seharusnya kau yang muram,
Kau malah menerangi malam.

Aku tak butuh serbuk peri dan pikiran manis untuk membawaku terbang ke angkasa.
Aku hanya butuh engkau dalam melewati lika-liku kehidupan ini.
Aku hanya butuh engkau.
Engkau yang telah membawaku terbang sedari awal kau memutuskan untuk merajut 'kita'.

Kamis, 22 Mei 2014

3 Tahun dan "NO" to Time-Machine

     Gue gak pernah menyangka 3 tahun akan berlalu secepat ini.
    Banyak canda-tawa, keluhan, tangisan, dan pelajaran tentunya. Sungguh berwarna dan dinamis. Sangat patut disyukuri. Tak tergantikan dan bagian dari turning point dalam hidup gue. Ketemu dan berelasi dengan guru-guru serta teman-teman yang takut akan Tuhan dan penuh perbedaan itu suatu keindahan masa-masa SMA yang hanya satu kali. Tidak hanya ilmu pengetahuan yang didapatkan, tetapi juga prinsip-prinsip hidup Kristiani sesuai dengan Firman Tuhan which is the most important thing.
     Selama 3 tahun ini, terlalu berlimpah anugerah yang Tuhan berikan. Terkadang, gue stress sendiri, eneg sama diri gue, karena terlalu sering menyia-nyiakan anugerah-Nya. Take it for granted, bahasa kerennya. Itulah penyakit bebuyutan manusia. Dari zaman Adam dan Hawa sampai abad ke-21 melewati digital age di era postmodern begini, manusia masih saja, bahkan tambah take it for granted. Seram. Lebih seram daripada film-film horor Thailand. Kenapa? Karena bisa saja manusia menjadi seperti tikus yang mati di lumbung padi. Mati di tengah-tengah anugerah. Ini bukan seram karena si setan itu bisa dilihat pakai mata kepala, melainkan seram karena bisa aja 'setan' (keburukkan diri sendiri) itu tak terlihat oleh mata hati, alias buta secara rohani.
    Bicara soal menyia-nyiakan anugerah, apakah gue berharap supaya waktu bisa terulang sehingga gue bisa memperbaiki tiap kesalahan gue?
     Tak bisa dipungkiri bahwa selama ini, ada hal-hal yang gue sesali, dan ada pula hal-hal yang gue harapkan akan terus selamanya diam di hidup gue. Sekalipun ditawarkan time-machine, gue gak akan mau menggunakannya untuk kembali ke masa lalu. Mungkin, dengan time-machine itu, akan ada penawaran untuk mengubah kesalahan gue di masa lalu, atau memperbaiki apapun deh, sebelum ada yang terlambat dan berakhir menyedihkan sampai sekarang. Biarlah yang telah terjadi menjadi pelajaran bagi gue. Rangkaian peristiwa itu sangat gue syukuri dan pelajaran yang dibuahkan darinya gue bawa untuk menghadapi hari-hari depan nanti. Sekalipun ditawarkan time-machine, gue gak akan mau menggunakannya untuk merantau ke masa depan. Mungkin, dengan time-machine itu, akan ada penawaran untuk melihat cuplik demi cuplik bagaimana kisah gue ketika dewasa dan hari tua nanti. Mungkin, akan ada peristiwa-peristiwa buruk di masa depan yang akan terjadi akibat perilaku gue sekarang dan beberapa waktu nanti. Intinya, ya, jadi gue bisa punya 'kendali' sendiri. Bisa menduga apa yang akan terjadi dan melakukan hal lain untuk mengubah masa depan yang udah gue lihat. Ah, tapi gue gak mau. Biarlah dari sekarang sampai kapanpun, hidup ini berjalan aja sesuai rencana-Nya. Justru, hal-hal yang tak terduga itu yang memberi warna. Justru, kalau gue gak tahu, akan ada lebih banyak pelajaran dan dinamika yang terjadi nantinya. Bukan berarti gue jadi 'gak mau tahu', melainkan harus tetap mau tahu dan buka mata akan apa kehendak-Nya atas hidup gue yang singkat ini. Ora et labora. Jadi, kalau diberikan time-machine, benda yang diimpikan manusia sepanjang zaman itu akan gue biarkan terbengkalai di gudang.
    Gue mau hidup berjalan aja dengan bergandengan sama Tuhan.
    Bersyukur banget atas semua teman dan guru yang sudah diberikan Tuhan. Pasti, akan ada momen-momen yang terlupakan, entah karena dimakan waktu atau otak gue yang cupu. Namun, gue berharap we shall not forget each other. Gue berharap kami akan saling mendoakan. Mungkin satu orang gak banyak, tetapi setidaknya ada satu doa untuk setiap orang. Karena kuasa doa itu bisa bikin mulut kita menganga dan hati kita bergejolak. Bahkan, mungkin lebih.
    Gue berharap, selepas SMA ini, kami semua tetap berjalan bersama Tuhan dan bersandar terus pada-Nya. Semua itu tidak lepas dari anugerah-Nya. All great thanks to God!

    Soli Deo Gloria!


Kamis, 01 Mei 2014

Running to the Void

Imagine this.

You're standing in the midst of crowd.
You know them, but only a few who have relationships with you.
Only a few who are connected with you.
They're talking and laughing a lot while you're just trying to keep a silence.
They're full of noisiness, yet also hilarity.
Meanwhile, you keep standing still, watching them alertly.

Then suddenly, you're sick of that hectic atmosphere.
No one's without lies.
Everyone has his or her own fudge.
All you want is stillness.
Maybe, to find clarity.
Or maybe, to find back your serenity, since you believe you had it once.

You close your eyes, hoping all that clamorous sound to fade away.
It does.
Slowly, it becomes more and more serene.

You start to open your eyes.
And all you can see is refulgence.
Everything is so clear white.
You dazzle for a moment.
You narrow your eyes.

A wonderful view begins to appear.
There's a vast field of golden grass.
They're all swayed by the wind.
You can feel the wind breeze through your hair and ears.
The sky is blue and full of white cotton cloud.
What is this place?
All you can hear is silence.
All you can feel is quietude.

As you begin to enjoy the moment, your mind starts to wonder about the others.
Where are they?
You try to savour the moment and explore the place.
Where am I?
You start asking where you're standing when you realize about where the others are.

You try to fancy the view and the atmosphere, but everything you do ends up with looking for the others.
Why am I here?
You start to walk wherever the wind blows, not to explore the place, but to find someone.
How did I get here?
There's a little feeling of wanting to cry, but your mind keeps fighting it by asking one question: "Isn't this what you wanted? A solitude?"

Suddenly, you hear a voice.
A voice that's calling your name.
Some voices begin to rise.
They all are whispering, calling you by your name.
Their voices are like a glimpse of heaven.
So, what the place where you are now is called?

Thence, you start to run.
Run and run to look for the source of the voices.
Where is it? Where are they?
Begging to the sky, you keep running and hoping to find someone.
Someone you can walk together with.
Someone you can share everything with.
Someone whom you miss from the crowd that you used to execrate.

Unexpectedly, the voices begin to fade away.
It's so unforeseen.
Anxiety begins to creep in.
You run faster, as fast as you can, trying to catch one of them.
Nevertheless, it's like they run faster than you can ever be.
You cannot catch them up.
Just like from the very first start, you can grip none of them.

You're panting.
Not because you're exhausted.
But because you're afraid.
Afraid of being alone.

You fall on your knee.
Tears start falling on your cheek.
You're afraid.
Afraid of that solitude which you used to want.
You just understand nothing.
Trying to figure out where they've gone, but everything ends up with this word: 'why'

Thenceforward, you stand and start walking again.
You realize.
You realize that the voices were never real.
They are not real.
Those voices are only your thoughts.
Because you long for company in your deep heart.
Craving for serenity and clarity, but all you have now is a great void.

You realize.
That you've been left alone.