Sabtu, 26 Maret 2016

Gejolak

Kau dan aku sedang bergejolak.

Ada gejolak yang tidak kita mengerti di antara kita berdua. Sebagai kedua insan yang saling bertemu, kita telah merajut begitu banyak cerita. Seluruh emosi dan karakterku telah tertumpah ruah padamu. Kukira, begitu juga sebaliknya. Setiap kepingan-kepingan momen emosional selama ini memperdalam pengenalan kita akan karakter satu sama lain. Namun kali ini, kau samasekali tidak dapat kugapai, apalagi kukenal.

Kau bilang, kau sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan dirimu. Biar kukatakan begini setelah pemikiran dan pemahamanku akhir-akhir ini: kau itu normal dan aku yang aneh. Kau hanya bersikap selayaknya manusia normal yang telah menyusuri jalan percintaan selama hampir dua tahun bersama pasangannya. Aku ini yang..."pengecualian"? Asal kau tahu, meskipun sudah dua tahun berlalu, aku tidak akan merasa bosan sebelum kau merasa bosan. Aku tidak akan merasa sendirian jika kau tidak berubah menjadi dingin dan semakin jauh. Aku tetap akan mencintaimu dengan menggebu-gebu hari-hari demi hari dari hal-hal kecil meski jarak memisahkan. Aku tidak mengerti mengapa meski 707 hari telah berlalu, aku masih suka mengingat-ingat momen demi momen kita berdua sebelum dan sesudah pacaran. Namun, aku harap kau tahu... Senyumku kini bukan senyum bahagia, melainkan senyum tipis penuh kesedihan, pertanyaan, dan harapan yang hampir sirna. Kesedihan akan terbangnya momen-momen itu begitu saja di matamu. Pertanyaan seputar "Was everything truly 'real'?" Harapan akan kembalinya kita berdua.

Kata orang, kau hanya bersikap normal dengan merasa bosan akan semua cerita kita, penat dengan jarak yang ada—karena a relationship needs to meet—dan sikapku yang berbeda dari dirimu hingga katamu, perasaan sayang itu telah memudar meski tetap "ada". Kata orang, "Don't dictate your relationship by your feelings." Ketika kita membicarakan peihal relasi, itu melampaui perasaan. Relasi adalah yang seluruh perasaan yang telah tertumpah-ruah, pengenalan kita akan satu sama lain selama ini, seluruh cerita yang telah kita tulis, dan segala masa depan yang telah kita rancang selama ini. Relasi juga meliputi kepercayaan dan komitmen yang telah kita buat. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar berelasi selama ini? Atau kita hanya seperti remaja, pemuda-pemudi pada umumnya yang sempat tergila-gila akan satu sama lain seiring perasaan itu menggiring kita ke lembah penuh mimpi? Kuharap tidak karena itu akan sangat menyakitkan.

Asal kau tahu, setiap malam aku berharap kau segera kembali esok paginya. Kembali dari perjalananmu ke negeri antah-berantah yang kau sendiri tidak sadari. Kembali dari ruang sesak dan penat yang memenjarakanmu dan menghalangiku untuk mengetuk pintu hatimu lagi. Kembali dari pelarianmu. Kembali dari ketidakmengertianmu terhadap kita berdua dan misteri dua jiwa yang terpaut menjadi satu. Kembali dari tempat di mana kau berada sekarang ke sisiku lagi.

Atau mungkin aku yang sudah terlalu lama berkelana di dunia mimpi. Sedari awal sampai beberapa waktu lalu, kau hanya berusaha menyesuaikan diri dengan dunia idealku. Namun, sekarang kau tidak tahan lagi dan membuka jendela, pintu lebar-lebar agar mataku terbuka.

Aku merindukanmu. Merindukan bagaimana kau mengutarakan bagaimana kau mencintaiku, menicintai kita berdua dengan segala kalimat, baik tertulis maupun ujaran, ataupun tindakan. Merindukan bagaimana kita terus-menerus berjanji untuk tetap bersama melewati lika-liku hidup ini. Merindukan bagaimana kau memandangku dan tersenyum tulus. Merindukan bagaimana kita tertawa dan bercanda satu sama lain. Merindukan bagaimana kita tidak lagi takut untuk membuka dan berbagi kebodohan masing-masing. Merindukan bagaimana kita memikirkan dan membicarakan tentang masa depan kita kelak yang seharusnya, memang kita rajut bersama.

Aku merindukan kesederhanaan kita yang membuat kita merasa memiliki semuanya.

Kuharap kau tahu, aku masih di sini menunggumu, mengharapkanmu.

Aku harap kau tahu, ingat, dan mengerti ketika aku mengatakan bahwa pencarianku sudah selesai. Aku harap kau kembali.
Padaku.

Maaf jika aku sangat egois pada akhirnya.

Mungkin, aku telah melupakan ajaran lama itu. Aku telah melupakan bagaimana mencintai tanpa harus memiliki. Aku telah melupakan hal itu ketika kau bertanya padaku untuk merajut kita berdua bersamaku. Jujur saja, aku tidak ingin lagi mencintai tanpa harus memiliki.

Namun, di satu sisi... Aku juga ingin kau bahagia.

Mungkin, yang harus kupahami sekarang adalah seandainya kebahagiaanmu itu tidak bersamaku.



Jumat, 01 Januari 2016

A Marker of Time

It's always interesting how these "last" and "first" are special for human-being. Can both are simply meant as a marker of time?

Well, both as one can stand for many things based on its context, but never is apart from time.
It's because human has the concept of time, "last" and "first" define something: a special moment, act or event, etc. Maybe, at a certain place too, since we live in time and space.

Another thing that I can extract from "first" and  "last" is, referring to Claude Levi-Strauss, it's one of an amount of examples about binary opposition that naturally exists in human's mind. We do contrast so many things in the way we see this world, don't we?

Both as one is a marker of time that's related to defining someone or something (an act, natural phenomena, event, etc.), I think.

And how people celebrate the "first" and the "last" are diverse, according to how they interpret the moment and place, I assume. Just like how people celebrate the last day of year 2015 and the first day of year 2016, this year, for example.

In addition, the transition between the "first" and the "last" can be deliberately complicated, yet simple. We can see how every marker of time has a certain process in order to reach it.

Finally, for the last phrase of this absurd writing, I'll say:

HAPPY NEW YEAR 2016!!!



Jumat, 06 Maret 2015

Kataku Padamu

Kau mengungkapkannya dengan kata-kata.
Apakah itu untuk meyakinkan dirinya,
Atau dirimu sendiri?

Senin, 24 November 2014

As We Do

Do you know the feeling of having a sudden shock for missing your purpose?
It’s like one day, you wake up in the morning, brush your teeth, get dress, stare at the mirror, look at your reflection for a moment and suddenly get stung with this question which is actually been dangling in your mind for a while.
Ask yourself: What’s your life’s vision?

Walking down the hallway, taking a glance at some people, having a glimpse about things you want to do in the future, thinking about how today will turn out to be… Did you ever think about those all at once? For me, all of those things happen at the same time, every morning during my walk to campus and class.

It seems like I’m trying so hard to get everything settled without knowing where I am, for sure. I feel so far away from reaching my best. I keep asking myself about what is wrong with me, will I be able to fight my laziness if I keep doing the same pattern, what is my point of doing all those daily activities, have I done my best—which of course, I have not at all—am I going to be the change that I want to be in this world and so on…
Then, I just got stung again with this question that shattered most of my thoughts above.
“Unless I ask the right question to myself, how can I find the right answer?”

Think about this: Why are you doing what you do everyday?
Ask yourself, whether this bustling world—which is made by laborious people—has made you not aware of essential things in life.
No, wait. This is the former question that you have to know the answer, first.
“Do you really know and understand what are the essential things in life?” In your life, to be exact.
Thenceforth, ask yourself again: Have I realized what is the essence of everything that I do or I’ve done? Am I not losing the essence of this life?
Don’t forget to make sure of it.

There’s a simple conclusion related to the things that we do everyday without oppugning much.
We automatically do what we think we have to do.
We feel that we must do it, since it’s like a conformity in the society. We have this mechanic urge to achieve what the world tends to admire or amaze about, or simply, we are afraid to be different. We are shaped by this society which seems so assiduous. ‘Assiduous’ as we may say, but ironically, we’re also like a walking zombie. Don’t you ever feel like walking in void?

Well, let’s end this colloquy—wait, or is this a soliloquy?
I hope this bunch of words can be a straight-out reflection for those who read it.
Well, maybe what is written here is not that obvious, since each of us needs to find our own clarity. I purposely leave all the questions unanswered and no longer recital, so that those who read this can elaborate the questions and answers by their own.

Make your life meaningful.
Lead an awesome life! J



Minggu, 31 Agustus 2014

Aku Selalu

Jikalau kamu berdiri di sini, di hadapanku, dan bertanya seberapa besar aku mencintaimu...
Aku akan meminta kamu untuk menengadah ke atas melihat langit yang membentang luas menaungi kita.
Seraya kamu memandang langit, aku akan mengatakan bahwa sebesar itulah aku mencintaimu.

Jikalau kamu berdiri di sini, di hadapanku, dan bertanya seberapa besar aku merindukanmu...
Aku juga akan meminta kamu untuk menengadah ke atas melihat langit yang membentang luas menaungi kita.
Seraya kamu memandang langit, aku akan mengatakan bahwa sebesar itulah aku merindukanmu.

Aku tahu, langit masih bagian dari dunia ini. Dan apapun yang ada di dunia ini, itu terbatas. Namun, kumohon, jangan lihat dari sisi waktu dan kapasitas.

Lihatlah, dari sisi ini:

Langit. Membentang luas hingga ke berbagai pelosok dan penjuru dunia. Ke manapun dan di manapun, kamu, aku, kita, kalian, mereka akan selalu dinaungi oleh langit. Langit selalu membentang di atas kita di manapun kita berada, ke manapun kita pergi, dan kapanpun kita bertindak.

Itu berarti...
Ke manapun, di manapun, dan kapanpun kita bernapas, selama kita masih diizinkan untuk hidup dan berpetualang, aku akan selalu mencintaimu dan merindukanmu.

Aku selalu mencintaimu dan merindukanmu.


Jumat, 29 Agustus 2014

Cuap-Cuap Santai

Udah lama banget gue gak nge-blog. Kangen, sih... Tapi gak berasa kehilangan banget. Mungkin karena udah terbiasa kali, ya. Awalnya berasa ada yang hilang, tapi lama-lama gak terlalu berpengaruh juga dan malah pudar begitu aja semangat untuk menulis, mengetik lagi.

Yaaa.. Begitulah. Semangat dan kemauan yang kita sendiri tidak jaga, bisa hilang begitu saja kalau kita menuruti kemalasan yang terus bercokol dalam tiap pribadi kita.

Di tulisan kali ini, gue mau santai-santai aja. Liat aja dari bahasa gue yang super acak-kadul.

Oiya, ada kabar gembira yang belum gue kasi tau. (Bukan Mastin si ekstrak kulit manggis, pastinya. Basi banget itu lelucon.)

Sahabat gue dan....gue....hanya oleh karena anugerah Tuhan....DITERIMA di kampus impian kami. Kampus yang telah kami dambakan semenjak duduk di bangku kelas 10. Iya, dari SMA 1. Kampus yang membuat kami selama SMA terus mengembangkan imajinasi kami jikalau berkuliah di sana. Kampus yang khas dengan makara kuningnya. Kampus yang disebut sebagai "Kampus Perjuangan". Satu-satunya kampus yang pakai nama 'Indonesia'.

UNIVERSITAS INDONESIA.

UI ohhh UI ohhh UI!!!
'JAKUN' alias jaket kuning bukan lagi di depan sana untuk diraih, melainkan jakun sekarang ada di depan mata untuk...DIPAKAI. :D

Sesuai dengan harapan gue, gue diizinkan untuk mengenyam pendidikan di UI untuk 4 tahun ke depan. (Amin, kalo 4 tahun dan bisa cum laude. Tapi katanya Antrop lulus lama.. Setiap orang yang gue tanyain, kayak pasrah ato "syukur-syukur lulus" gitu. Kalo yang bisa 4 tahun itu disembah-sembah, rata-rata itu 4,5 tahun.)

Jujur, gue takut. Takut nanti gak mampu. Di satu sisi, gue percaya juga Tuhan pasti akan memapukan. I believe that as long as I keep leaning on Him, knowing that I'm nothing without Him and asking for His help, He will always strengthen me.

Gue juga mau menghidupi kutipan ini dari seorang dosen yang berorasi waktu OKK (acara ospek universitas):
"Jangan cuma numpang pakai brand 'UI'. MILIKI BRAND-MU SENDIRI!"

Terus, kutipan dari ketua BEM FISIP UI tahun ini juga.
"Jadilah bermanfaat!"

Gue sangat berharap teman-teman sefakultas dan gue bisa jadi bermanfaat. Gue gak mau jadi sampah yang cuma mondar-mandir di UI, gak bisa bertanggung jawab atas anugerah yang udah diberikan. Masih banyak banget orang yang di luar sana yang mungkin mau banget masuk FISIP UI, yang mungkin jauh lebih layak masuk UI dibanding gue.

Masuk UI... Senang banget. Sesuai harapan gue, di sini menemukan diversity. Sangat bayak perbedaan. Begitu beragam, begitu berwarna. Karena mahasiswa-mahasiswi di sini berasal dari berbagai latar belakang budaya, keluarga, daerah. Gue menemukan orang-orang dengan kisah yang selama ini cuma ada di imajinasi gue kayak di film-film atau novel. Wew sekaligus Wow! :)

Oiya, ada dua kata yang gue suka banget dari lagu 'Mars FISIP UI' :

"...Mercusuar peradaban..."

Bagus banget, kan? Cahaya yang menuntun kehidupan, zaman... Jadilah cahaya yang menuntun kehidupan masyarakat. Gak cuma menuntun, tapi juga memperlihatkan batas, menjadi penanda. Menjadi penuntun dan penjaga.

Sekian dulu, deh cuap-cuap gue. Random banget, ya? Hahaha

Have a great life!


Selasa, 26 Agustus 2014

Perjuangan Mereka yang Melebihi Kepedulian Pemerintah

Seperti yang ditegaskan dalam UUD 1945 pasal 31, pendidikan adalah hak bagi setiap warga negara. Namun, masih banyak anak-anak Indonesia yang tidak mendapatkan pendidikan yang sewajarnya dikarenakan masalah dana, akses, infrastruktur, dan lain-lain. Masalah itu bukan lagi sesuatu yang asing bagi kita.
Sebagai cara untuk menjawab permasalahan tersebut, Sekolah Master yang berada di Depok, bersedia mengajari anak-anak marginal dengan gratis. Dengan semangat untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak kurang mampu, Sekolah Master berdiri dan berkembang.
Nama ‘Master’ sendiri diambil dari  ‘masjid terminal’ yang dekat dengan di mana sekolah itu dibangun. Berawal dari perkumpulan pemuda masjid yang peduli untuk mengajar anak-anak jalanan di sekitar terminal, Sekolah Master berdiri dan bertumbuh untuk menjangkau lebih banyak anak marginal. Sekolah ini menerima siapapun yang ingin belajar, entah itu anak jalanan ataupun anak-anak yang tidak mampu melanjutkan biaya studi di sekolah negeri. Selama siswa ada kemauan belajar, Master akan fasilitasi. Kelas TK-SMA ada di Master dan dibuka dari pagi sampai malam dengan jadwal tertentu.
Meskipun sekolah ini bertujuan mulia, ada berbagai hambatan yang menjadikan sekolah ini harus bergelut, berjuang mempertahankan keberadaannya. Hambatan pertama adalah masalah kurang memadainya infrastruktur yang ada. Namun, hal itu kurang lebih dikarenakan sumber dana yang minim dan sangat kurangnya dukungan pemerintah. Sumber dana itu pun murni hanya berasal dari para donatur. Para guru dan staff juga adalah sukarelawan. Kedua, adalah masalah lingkungan. Anak-anak harus dididik lebih ekstra karena sehari-hari hidup dekat lingkungan premanisme dan tindak penyimpangan sosial lainnya. Ketiga, yaitu soal pemerintah kota yang akan menggusur Sekolah Master. Hal itu dikarenakan menurut tata ruang wilayah kota Depok, daerah itu akan dijadikan pusat grosir. Meskipun Master telah memilik surat izin sejak tahun 2007 dan telah diadakannya akomodasi dengan walikota yang diliput media sosial, bagian SD dan SMP di Master akan tetap terkena gusur. Pemerintah mengatakan akan memindahkan Sekolah Master, tetapi belum diberi tahu di mana lokasi tepatnya. Selain itu, hal tersebut juga menjadi kendala karena jikalau pindah tempat, harus dimulai dari nol lagi dan hal itu sangat sulit. Keempat, yaitu mengenai perolehan ijazah untuk siswa yang akan lulus. Hal itu disebabkan oleh bayaran yang sangat minim kepada dinas, ijazah pun dipersulit, entah itu ditidakluluskan atau nilainya diturunkan. Jika ditinjau ulang, dapat terlihat bahwa hambatan-hambatan Master berasal dari eksternal. Kalaupun masalah infrastrukur, hambatan internal, dapat dikatakan bahwa itu pun terkait dengan masalah eksternal.
Mengetahui fakta-fakta tersebut, saya pribadi, kecewa dengan perlakuan pemerintah kota, khususnya dinas. Pemerintah yang seharusnya mengayomi anak-anak yang kurang dan membutuhkan, malah mempersulit organisasi sosial yang peduli terhadap anak-anak marginal itu. Jikalau bicara tentang lokasi Master terkait dengan tata ruang wilayah yang ada, mungkin memang pemerintah ingin merapikan Depok. Namun, seharusnya Sekolah Master diberi kepastian di mana lokasi selanjutnya untuk bisa tetap menjangkau anak-anak yang kekurangan dan yang telah belajar di sana. Pemerintah seharusnya juga memfasilitasi, bukan mempersulit. Dinas yang seharusnya menolong anak-anak Indonesia untuk memperoleh pendidikan, malah mempersulit ijazah hanya karena masalah uang atau kurang bayaran.
Sebenarnya masalah serupa tak jarang lagi terjadi. Banyak juga sekolah di daera-daerah lain di Indonesia yang mendapatkan kesulitan serupa dari dinas. Mungkin orang-orang pemerintah itu meragukan kualitas siswa-siswi yang ingin diluluskan, tetapi apakah itu jawaban untuk keraguannya? Di mana peran mereka yang seharusnya memperjuangkan pendidikan untuk masyarakat Indonesia terlepas dari apa latar belakang sang siswa?
            Fenomena Sekolah Master ini merupakan satu dari sepersekian ribu sekolah kecil yang ada di berbagai penjuru di Indonesia. Melihat fenomena sosial yang seperti ini, akankah kita sebagai penerus generasi muda bangsa tetap berpangku tangan, tidak terlalu mementingkan pendidikan di Indonesia? Akankah kita tetap memberikan kritik tanpa melakukan aksi? Akankah kita tetap bersandar penuh pada pemerintah dan membiarkan pemerintah yang bertanggung jawab, meskipun kita telah tahu masih bobroknya karakter pemerintahan di Indonesia? Di mana lagi mata yang celik untuk melihat bahwa pendidikan sangat penting untuk pembangunan Indonesia jangka panjang? Melihat perlakuan dinas yang seperti itu, apa sebenarnya kriteria kelulusan untuk anak-anak Indonesia? Apa standar kelulusan untuk anak-anak bangsa?

Kembali pada persoalan Master. Solusi yang bisa saya tawarkan sebagai mahasiswa baru yang masih minim dalam berpikir adalah lebih mengenalkan Master kepada warga-warga sekitar lewat media sosial, sosialisasi langsung, dan acara-acara pameran karya anak Master. Lewat media sosial, para pengurus Mater bisa mengedepankan informasi-informasi tentang Master, kepedulian Master terhadap anak-anak marginal di Depok, share foto-foto kegiatan anak-anak Master, dan lan-lain. Hal itu bisa dilakukan untuk menarik hati pembaca agar ikut sadar betapa pentingnya pendidikan dan bahagianya anak-anak itu memperoleh pendidikan. Tak hanya itu. melalui sosialisasi langsung, para pengurus Master juga bisa melakukan orasi-orasi singkat untuk mengajak dan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pendidikan bagi generasi muda dan apa visi misi tujuan Master yang berkaitan dengan mencerdaskan anak bangsa. Selain itu, Master seharusnya bisa mengadakan acara pameran karya-karya anak Master. Misalnya, dalam bidang menulis dan menggambar. Hal itu sebagai bukti dan menunjukkan kepada warga dan para pendatang bahwa kegiatan yang dilakukan di Master benar-benar edukatif, serta mengajar anak untuk berkarya. Dengan begitu, berserah kepada Yang Maha Kuasa, semoga ada banyak mahasisa cerdas yang ikut menjadi volunteer sebagai pengajar.
Selamatkan Sekolah Master!