Kamis, 01 Mei 2014

Running to the Void

Imagine this.

You're standing in the midst of crowd.
You know them, but only a few who have relationships with you.
Only a few who are connected with you.
They're talking and laughing a lot while you're just trying to keep a silence.
They're full of noisiness, yet also hilarity.
Meanwhile, you keep standing still, watching them alertly.

Then suddenly, you're sick of that hectic atmosphere.
No one's without lies.
Everyone has his or her own fudge.
All you want is stillness.
Maybe, to find clarity.
Or maybe, to find back your serenity, since you believe you had it once.

You close your eyes, hoping all that clamorous sound to fade away.
It does.
Slowly, it becomes more and more serene.

You start to open your eyes.
And all you can see is refulgence.
Everything is so clear white.
You dazzle for a moment.
You narrow your eyes.

A wonderful view begins to appear.
There's a vast field of golden grass.
They're all swayed by the wind.
You can feel the wind breeze through your hair and ears.
The sky is blue and full of white cotton cloud.
What is this place?
All you can hear is silence.
All you can feel is quietude.

As you begin to enjoy the moment, your mind starts to wonder about the others.
Where are they?
You try to savour the moment and explore the place.
Where am I?
You start asking where you're standing when you realize about where the others are.

You try to fancy the view and the atmosphere, but everything you do ends up with looking for the others.
Why am I here?
You start to walk wherever the wind blows, not to explore the place, but to find someone.
How did I get here?
There's a little feeling of wanting to cry, but your mind keeps fighting it by asking one question: "Isn't this what you wanted? A solitude?"

Suddenly, you hear a voice.
A voice that's calling your name.
Some voices begin to rise.
They all are whispering, calling you by your name.
Their voices are like a glimpse of heaven.
So, what the place where you are now is called?

Thence, you start to run.
Run and run to look for the source of the voices.
Where is it? Where are they?
Begging to the sky, you keep running and hoping to find someone.
Someone you can walk together with.
Someone you can share everything with.
Someone whom you miss from the crowd that you used to execrate.

Unexpectedly, the voices begin to fade away.
It's so unforeseen.
Anxiety begins to creep in.
You run faster, as fast as you can, trying to catch one of them.
Nevertheless, it's like they run faster than you can ever be.
You cannot catch them up.
Just like from the very first start, you can grip none of them.

You're panting.
Not because you're exhausted.
But because you're afraid.
Afraid of being alone.

You fall on your knee.
Tears start falling on your cheek.
You're afraid.
Afraid of that solitude which you used to want.
You just understand nothing.
Trying to figure out where they've gone, but everything ends up with this word: 'why'

Thenceforward, you stand and start walking again.
You realize.
You realize that the voices were never real.
They are not real.
Those voices are only your thoughts.
Because you long for company in your deep heart.
Craving for serenity and clarity, but all you have now is a great void.

You realize.
That you've been left alone.

Selasa, 29 April 2014

Takut

Pernahkah...

Engkau sedang terpaut dengan satu hal. Satu hal yang berkomitmen dan kau tahu, akan penuh gejolak dan dinamika. Akan ada derai tawa dan tetes air mata. Akan penuh warna layaknya langit Bumi ini.

Namun, seberapa sering pun kau mengatakan kau 'tahu', kau tetap memiliki ketakutanmu sendiri.

Ketakutan yang merupakan tumpukan dari berbagai kepingan pikiran menerawang penuh keraguan dan kekhawatiran akan tiap inci peristiwa berikutnya. Ketakutan yang kau tahu, jikalau kau pertanyakan sekarang pun, tidak akan ada jawaban yang bisa seratus persen meredakannya. Ketakutan yang kau tahu, tak akan bisa tuntas dalam waktu dekat karena hanya satu jawaban yang dimilikinya: 'percaya'.

Ketakutan itu kadang menyesakkan hati. Kadang, membuat dirimu gundah-gulana seperti tiada pijakan. Padahal, kau tahu betul di mana kau berpijak dan kepada siapa kau harus berpegang. Padahal, kau tahu jelas siapa yang menuntunmu. Padahal, kau tahu jelas siapa yang selalu akan merengkuhmu erat kapanpun kau membutuhkannya. Kau sadar betul akan hal itu. Namun, rasa takut itu tetap ada.

Apakah, itu karena kurang 'percaya'?

Entahlah. Mungkin. Padahal, kau tahu benar mengapa terkadang Sang Maha Kuasa mengizinkan penderitaan terjadi. Tak pernah ada maksud jahat. Tak pernah. Setitik pun, tak ada.

Mungkin, prinsip bahwa hal buruk itu terkadang malah bisa memperbaiki hal yang baik perlu benar-benar ditanamkan dalam diri yang penuh kerisauan ini.

Dan harus jauh lebih percaya.


Senin, 28 April 2014

Misteri

    Jikalau langit bisa lebih dari sekadar menaungi kita, apa yang akan ia peluk? Jikalau dedaunan bisa lebih dari sekadar bergemerisik, apa yang akan mereka katakan? Jikalau angin bisa lebih dari sekadar berdesir, apa yang akan dihembuskannya? Jikalau air bisa lebih dari sekadar mengucur atau bergemericik, apa yang akan ditenggelamkannya?

   Jikalau aku bisa lebih dari sekadar berdiri mematung mengamatimu dari jauh, apa yang akan kuucapkan padamu? Jikalau kau bisa lebih dari sekadar melihat ke sekelilingmu, apa yang akan kau lihat dari diriku? Jikalau kita bisa saling bergenggaman tangan, apa yang akan kita tempuh bersama?

    "Langitnya biru, ya."

    "Kamu dengar bisikan-bisikan dedaunan itu?"

    "Anginnya cukup kencang, ya. Dingin."

    "Kamu dengar deburan ombak semalam?"

    Engkau memporak-porandakan pikiranku. Meski aku selalu berada di luar lingkaranmu, aku tidak pernah berhenti memimpikanmu. Mendambakanmu itu sudah menjadi kebiasanku. Mengais-ngais udara setiap malam hanya untuk mengingatkan diriku bahwa kau tidak bisa kuraih. Mendengus kesal setiap kali kau terbersit di kepalaku. Itu sering.

    Atau mungkin, kau yang berada di luar lingkaranku.

    Ah, tidak. Buktinya, aku memperhatikanmu. Aku sadar betul akan keberadaanmu.

    Aku saja yang berada di luar lingkaranmu. Selalu. Tak pernah kau sadari, apalagi diperhatikan. Aku ini kasat mata bagimu. Kau dibutakan oleh sekelilingmu.

    Mereka. Apa kau puas dengan 'mereka' semua? Di mana sih, kacamatamu?

  "Tatapan langit begitu tajam. Biru yang cerah, aku suka. Namun, aku tak kuasa membendung kritikannya terhadap manusia. Kita bersalah pada langit."

    "Daunnya begitu hijau. Ada dedaunan yang berwarna ungu, gak, ya?"

    "Ketika angin berhembus pun, alam mengutarakan perasaannya."

    "Ombaknya cukup kencang. Seram. Aku tidak mau dekat-dekat."

    Aku tidak mengerti mengapa kau memikat hatiku. Mungkin pesonamu, atau karena elok rupamu. Aku tak mengerti. Padahal, kau selalu tidak mengerti kata-kata yang aku ucapkan. Tak ada untaian kataku yang dapat memicu langkah benakmu. Apalagi memacu. Aku tidak pernah bisa menarik pelatukmu. Begitu pula dengan kau, bagiku. Padahal, kau tidak pernah ingin membahas apa yang kuujarkan. Tertarik pun, tidak. Padahal, kita terlalu berbeda. Baik dari dunia sendiri, maupun sampai butiran-butiran udara. Apa yang membingkai dirimu tentu tidak akan pernah membingkai diriku. Dekat pun, tidak.

    Selamanya, akan selalu ada jurang di antara kita.

    Apa makna dari misteri ini?

    'Makna' itu ada di luar sana, tersedia di luar sana dan menunggu untuk ditemukan. Hanya saja, kita manusia, terlalu suka dan sering salah mengartikan 'makna'.



Minggu, 06 April 2014

Tanpa Anugerah-Nya, Tak Akan Kumiliki Persahabatan Ini

Sahabat seperti apa yang umumnya kita dambakan untuk miliki selama masa remaja di SMA? Mungkin sahabat yang ada kapanpun dibutuhkan, sahabat yang rela melewati suka-duka kehidupan bersama kita, sahabat yang setia kawan (kalau bisa langgeng sampai tua), atau sahabat yang bisa diajak bicara mengenai apapun tanpa rasa letih atau bosan. Banyak versi. Banyak kriteria: pendengar yang baik, ramah, jujur, setia kawan, asyik, pengertian, dan lain-lain.

Pada kesempatan tulis-menulis (ngetik, sih) ini, aku tidak ingin membicarakan soal keegoisan kita sebagai manusia yang seringkali selalu ingin mendapatkan teman 'terbaik' tanpa menilik diri sendiri terlebih dahulu. Aku tidak akan menceritakan tentang betapa menyenangkannya menemukan seorang sahabat yang bisa tertawa ria bersama meski dalam keadaan ingin menangis atau betapa "adventurous-nya" memiliki seorang sahabat yang selalu menguji kesabaran kita, tetapi juga memberi hal-hal manis pada kita. Aku hanya ingin sharing mengenai betapa bersyukurnya dianugerahkan seorang sahabat sepertumbuhan rohani.

Pada awal SMA, seperti anak remaja biasanya, aku menginginkan seorang sahabat yang menyenangkan: bisa diajak tertawa dan berfoto ria, makan-makan bersama di cafe-cafe anak muda, selera humor yang sama, selera topik pembicaraan yang sama. Aku membayangkan kami akan memiliki dunia sendiri ketika bersama dan menjadi gerombolan kami sendiri tanpa peduli orang lain mau ngomong apa. Namun, seiring berjalannya waktu, aku merasa persahabatan seperti itu sangat dangkal (tidak bisa memperkaya satu sama lain secara wawasan dan kedewasaan) dan kehidupan suatu individu atau kelompok itu tidak lepas dari lingkungan sekitarnya. Kita tidak bisa main "suka-suka gue" karena sifat individualistis seperti itu mengancam dan bahkan meruntuhkan integrasi masyarakat multikultural. Sederhananya, individu atau kelompok yang baik itu adalah mereka yang memedulikan individu dan kelompok lainnya.

Pada pertengahan SMA, aku mulai menginginkan seorang sahabat yang bisa sama-sama berpikir tajam. Aku menginginkan sahabat yang bisa diajak berdiskusi, berpikir kritis, dan bermimpi besar (idealis, tepatnya). Bagiku, hari-hari yang diwarnai dengan berbagai pemikiran mendalam nan luas itu lebih menantang dan kaya akan petualangan. Mengapa? Karena seluk beluk jiwa dan pikiran manusia itu merupakan suatu misteri. Selain itu, aku juga ingin belajar untuk lebih mengerti orang lain, baik orang yang selaras maupun yang sangat bertolak belakang denganku. Namun, seiring berjalannya waktu, aku kembali menemukan 'kehambaran'. Persahabatan seperti itu...masih belum lengkap. Masih ada sesuatu yang hilang, kurang, entahlah. Meskipun sahabat seperti itu lebih menarik daripada bayangan pertemananku pada awal SMA, tetap saja ada satu titik di mana rasanya kehidupan ini hambar dan malah menambah kepenatan. Mengapa? Baru kutemukan di kemudian hari, bahwa itu karena kami hanya berkutat di 'dunia manusia'. Tidak ada relasi dengan Sang Pencipta. Itulah yang membuatnya kurang.

Jikalau kita hanya berkutat di 'dunia manusia', pasti akan selalu ada rasa 'kosong' di sudut hati kita. Entah kapan rasa kekosongan itu akan menyeruak. Ketika rasa kosong itu telah menghantui hari-hari kita, kembalilah kepada Sang Pencipta. St. Agustinus menyebutkan tempat khusus di sudut hati jiwa terdalam itu sebagai "God-shaped vacuum that only God can fill." Maka, kembalilah kepada Tuhan melalui Yesus Kristus karena hanya Dialah yang bisa mengisi dan memenuhi hati kita dengan sempurna. Melalui Yesus Kristus, relasi kita dengan Allah akan kembali dipulihkan dan dijamin, tak akan lagi ada rasa kekosongan dalam jiwa ini.

Kembali pada topik persahabatan.

Pada penghujung SMA ini, aku mulai sadar bahwa yang paling berharga dari sebuah 'momen persahabatan' adalah ketika kita menemukan seorang sahabat sepertumbuhan rohani. Dalam persahabatan itu, yang kami pikirkan dan bicarakan secara kritis tidak hanya mengenai 'manusia', tetapi juga mengenai relasi pribadi dengan Tuhan. Yang kami pikirkan dan bicarakan tidak hanya mengenai 'ada apa dengan dunia ini', tetapi juga mengenai kerohanian dan pergumulan satu sama lain. Kami saling bertukar pikiran, menguatkan dan mengingatkan, serta bertumbuh di dalam Tuhan. Atas anugerah-Nya, kami melibatkan Tuhan sebagai Aktor Utama dalam hubungan persahabatan kami. Itulah yang terpenting dan terindah. Persahabatan seperti itulah yang begitu berharga. Saling mendewasakan. Saling mengasah, baik secara mental maupun emosi, dan tidak hanya bersandar pada rasio manusia, tetapi bersandar pada Tuhan, satu-satunya sumber pengertian, hikmat, dan kebijaksanaan.

Aku tidak akan menceritakan apa saja pergumulan kami karena bukan itu yang ingin kutekankan (lagipula, maaf, kurasa pembaca tidak perlu mengetahuinya).

Menemukan dan memiliki sahabat sepertumbuhan rohani itu sangat indah dan penting. Indah karena terasa begitu nyata bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita sendiri. Penting karena bisa saling menguatkan dan mengingatkan di dalam pergumulan serta pertumbuhan iman. Tuhan menyediakan orang-orang tertentu di sekitar kita yang peduli dan bisa saling berbagi berkat-Nya. Namun, jangan sampai kita lupa bahwa tidak ada manusia yang bisa dijadikan andalan dan sandaran. Kita tetap harus tahu bahwa sewaktu-waktu orang terdekat kita itu bisa mengecewakan dan meninggalkan kita. Hanya Tuhan Yesus Kristus yang tidak akan pernah meninggalkan ataupun mengecewakan kita. Di dalam Dia kita akan menemukan kepenuhan dan sukacita sejati. Kita tidak akan pernah merasa sendirian jika terus berpegang pada-Nya.

Sangat kusadari (perlu kukatakan, bahwa kesadaran itu tidak lepas dari anugerah-Nya) bahwa relasi antar manusia tanpa didasari oleh relasi pribadi dengan Tuhan akan terasa tidak lengkap, bahkan hambar dan 'kosong'. Hal itu dikarenakan kita tidak akan menemukan 'makna' tanpa kembali kepada Sang Pencipta. Makna yang sesungguhnya, makna yang bertautan dengan Kebenaran Sejati, makna yang terindah dan tak tergantikan.

Aku sangat bersyukur bahwa pada akhir-akhir masa SMA ini, Tuhan menganugerahkanku seorang sahabat yang juga rindu untuk mempererat relasi pribadi dengan Tuhan dan bersandar pada-Nya. Aku sangat bersyukur Tuhan tidak pernah melepaskan tuntunan-Nya dari kami. Aku sangat bersyukur Tuhan terus membimbing kami melewati berbagai pergumulan dan terus memberikan bermacam-macam pergumulan untuk menguji serta menumbuhkan iman kami. Aku sangat bersyukur karena Tuhan telah menyadarkan dan terus menguatkan kami. Di dalam Tuhan, kuyakin, kami akan terus bersama-sama bertumbuh. Kuyakin, kami akan saling mendoakan dan mendoakan orang lain juga. Kuyakin, kami akan terus saling menyemangati untuk membaca Firman Tuhan, mengingat betapa penting Firman-Nya dan doa bagi tiap pribadi orang percaya untuk berelasi dengan Dia. Kuyakin, kerohanian kami akan terus bertumbuh dalam segala hal dengan Kristus sebagai Kepala (Efesus 4:15).

Tanpa anugerah-Nya, tak akan kumiliki persahabatan ini.
Terima kasih, Tuhan.
Sola Gracia. Soli Deo Gloria.



Sabtu, 22 Maret 2014

Kicauan untuk Anak Malang

"Tindakannya itu amat bodoh. Sungguh mengecewakan. Sungguh memuakkan."
"Dia tidak henti-hentinya membuat onar, merusak hidupnya sendiri saja."
"Dia itu begitu busuk. Senang berbelok-belok dan membelot. Dasar, batu anak itu!"
"Dia sudah tahu yang benar, kok. Namun, tetap saja mencintai perbuatan bodohnya itu. Jikalau kita menyindirnya, mengejeknya sebagai tanda peringatan, dia malah balik mengatakan bahwa kita ini sengaja ingin menjatuhkannya. Cih! Dasar anak keras kepala! Mau jadi apa dia nanti? Busuk!"
"Benar, itu! Kita sudah berkali-kali menasihatinya, tetapi tetap saja dirinya berkecimpung dalam kubangan itu. Entah benar atau tidak dia bergumul akan dosa-dosa itu."
"Mungkin dia berusaha berperang, tetapi selalu kalah karena hatinya tidak sungguh-sungguh ingin berperang."
"Aku tidak mengerti lagi apa maunya. Halah! Dia itu menyusahkan orang saja. Banyak alasan. Sudah terlalu banyak kebohongan yang ia tuturkan pada kita."
"Sudahlah, tidak ada lagi yang bisa kita perbuat untuknya."
. . . .

Aku terdiam. Apakah adil terus-menerus menghakiminya seperti ini? Bukankah tidak ada di antara kita yang layak menghakimi sesama? Tiada dari kita yang bersih seratus persen. Standar apa yang dipakai untuk menghakiminya? Kita selayaknya harus berhati-hati karena bisa saja penghakiman itu datang dari hati kita sendiri yang ternyata jauh lebih angkuh dan kelam daripada si penjahat yang kita hina-hina.

Kudengarkan ocehan mereka soal anak yang mendidihkan darah mereka itu. Anak malang, pikirku. Pasti di dalam hatinya ada kekosongan yang ia tak mengerti dan berusaha untuk isi. Pasti dia merasa kesepian. Pasti dia merindukan kasih sayang, merindukan sesuatu yang bisa mengisi penuh hatinya. Ia telah kehilangan makna yang sejati akan dirinya. Maka dari itu, ia berusaha untuk mencarinya kembali. Yang terutama adalah pencarian untuk mengisi kekosongan hatinya. Perbuatan buruk yang ia lakukan itu merupakan bentuk pemberontakannya. Bentuk dari melepaskan kepenatannya. Kasihan. Sayangnya, cercaan dari teman-teman hanya akan tambah mengeraskan hatinya. Semakin sulit baginya untuk rendah hati karena merasa letih dihina-hina. Ia tidak terima akan semua hal buruk yang terjadi pada hidupnya. Hal itu malah  memupuk keangkuhan dalam dirinya. Kasihan. Sungguh kasihan.

Setelah cercaan terhadap anak malang itu mereda, aku membuka mulut. Kuucapkan kata-kata yang aku sendiri berharap bisa betul-betul mengerti dan melakukannya.

"Jikalau kita tahu yang benar, kita punya tugas untuk tak pernah berhenti menasihatinya, menanamkan segala prinsip-prinsip kebenaran pada anak itu. Bagaimana respon dia nantinya, itu urusan dia dengan Tuhan. Menghadapi dia memang perlu kesabaran ekstra. Yang dilakukannya itu bodoh? Mungkin. Namun, kita belum tentu mengerti betul latar belakang dirinya atau apa yang bergelut dalam pikiran dan hatinya. Entah itu soal keluarganya atau masa lalunya. Kita belum pernah mencicipi pahit-manis kehidupannya. Jangan lupa bahwa pengalaman hidupnya berbeda dari kita dan kemampuan tiap orang dalam menerima kenyataan itu berbeda-beda. Jikalau kita kuat, itu hanyalah karena anugerah Tuhan. Yang hanya bisa kita lakukan adalah menasihatinya dan mendoakannya agar Tuhan mengubah hatinya."

Beberapa dari mereka mengangguk-angguk. Kami sudah tahu akan hal itu. "Ya, ya, ya. Begitulah."

Aku menunduk. Ternyata, kami tidak jauh berbeda dari dia. Bahkan mungkin, lebih buruk.



Sabtu, 18 Januari 2014

Eternity

by William Blake (1757-1827)

He who bends to himself a joy
Does the winged life destroy;
But he who kisses the joy as it flies
Lives in eternity's sunrise.


Selasa, 14 Januari 2014

Tentang Cinta dari 'Aku Ingin'

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Aku Ingin
Sapardi Djoko Damono, 1989


Setelah kubaca puisi ini, aku diam tak bergeming. Sungguh menyayat hati. Segera kuingin padamkan kobaran api cemburu yang menghanguskan keceriaanku. Segera kuingin padamkan kobaran api amarah yang merampas kesukaanku padanya. Seharusnya, aku mencintai dengan sederhana.

Di dalam sebuah kesederhanaan, aku ingin sebuah rahasia bersemayam.
Di dalam sebuah kesederhanaan, ada cinta yang tak terungkap, ada cinta yang tak diketahui.
Cukup pada dirinya sendiri, cinta itu bergelora hingga waktu padamnya.

Aku senang menemukan puisi ini. Ya, telah aku hafal puisi ini.
Puisi ala Sapardi ini mengajarkanku untuk mencintai tulus apa adanya seturut masanya, walaupun tak sempat diutarakan hingga tak terbalas.
Cukup pada kesederhanaannya, ketulusan sifatnya, cinta itu bersemayam tanpa perlu diketahui apalagi dihargai.