Sabtu, 22 Maret 2014

Kicauan untuk Anak Malang

"Tindakannya itu amat bodoh. Sungguh mengecewakan. Sungguh memuakkan."
"Dia tidak henti-hentinya membuat onar, merusak hidupnya sendiri saja."
"Dia itu begitu busuk. Senang berbelok-belok dan membelot. Dasar, batu anak itu!"
"Dia sudah tahu yang benar, kok. Namun, tetap saja mencintai perbuatan bodohnya itu. Jikalau kita menyindirnya, mengejeknya sebagai tanda peringatan, dia malah balik mengatakan bahwa kita ini sengaja ingin menjatuhkannya. Cih! Dasar anak keras kepala! Mau jadi apa dia nanti? Busuk!"
"Benar, itu! Kita sudah berkali-kali menasihatinya, tetapi tetap saja dirinya berkecimpung dalam kubangan itu. Entah benar atau tidak dia bergumul akan dosa-dosa itu."
"Mungkin dia berusaha berperang, tetapi selalu kalah karena hatinya tidak sungguh-sungguh ingin berperang."
"Aku tidak mengerti lagi apa maunya. Halah! Dia itu menyusahkan orang saja. Banyak alasan. Sudah terlalu banyak kebohongan yang ia tuturkan pada kita."
"Sudahlah, tidak ada lagi yang bisa kita perbuat untuknya."
. . . .

Aku terdiam. Apakah adil terus-menerus menghakiminya seperti ini? Bukankah tidak ada di antara kita yang layak menghakimi sesama? Tiada dari kita yang bersih seratus persen. Standar apa yang dipakai untuk menghakiminya? Kita selayaknya harus berhati-hati karena bisa saja penghakiman itu datang dari hati kita sendiri yang ternyata jauh lebih angkuh dan kelam daripada si penjahat yang kita hina-hina.

Kudengarkan ocehan mereka soal anak yang mendidihkan darah mereka itu. Anak malang, pikirku. Pasti di dalam hatinya ada kekosongan yang ia tak mengerti dan berusaha untuk isi. Pasti dia merasa kesepian. Pasti dia merindukan kasih sayang, merindukan sesuatu yang bisa mengisi penuh hatinya. Ia telah kehilangan makna yang sejati akan dirinya. Maka dari itu, ia berusaha untuk mencarinya kembali. Yang terutama adalah pencarian untuk mengisi kekosongan hatinya. Perbuatan buruk yang ia lakukan itu merupakan bentuk pemberontakannya. Bentuk dari melepaskan kepenatannya. Kasihan. Sayangnya, cercaan dari teman-teman hanya akan tambah mengeraskan hatinya. Semakin sulit baginya untuk rendah hati karena merasa letih dihina-hina. Ia tidak terima akan semua hal buruk yang terjadi pada hidupnya. Hal itu malah  memupuk keangkuhan dalam dirinya. Kasihan. Sungguh kasihan.

Setelah cercaan terhadap anak malang itu mereda, aku membuka mulut. Kuucapkan kata-kata yang aku sendiri berharap bisa betul-betul mengerti dan melakukannya.

"Jikalau kita tahu yang benar, kita punya tugas untuk tak pernah berhenti menasihatinya, menanamkan segala prinsip-prinsip kebenaran pada anak itu. Bagaimana respon dia nantinya, itu urusan dia dengan Tuhan. Menghadapi dia memang perlu kesabaran ekstra. Yang dilakukannya itu bodoh? Mungkin. Namun, kita belum tentu mengerti betul latar belakang dirinya atau apa yang bergelut dalam pikiran dan hatinya. Entah itu soal keluarganya atau masa lalunya. Kita belum pernah mencicipi pahit-manis kehidupannya. Jangan lupa bahwa pengalaman hidupnya berbeda dari kita dan kemampuan tiap orang dalam menerima kenyataan itu berbeda-beda. Jikalau kita kuat, itu hanyalah karena anugerah Tuhan. Yang hanya bisa kita lakukan adalah menasihatinya dan mendoakannya agar Tuhan mengubah hatinya."

Beberapa dari mereka mengangguk-angguk. Kami sudah tahu akan hal itu. "Ya, ya, ya. Begitulah."

Aku menunduk. Ternyata, kami tidak jauh berbeda dari dia. Bahkan mungkin, lebih buruk.



Sabtu, 18 Januari 2014

Eternity

by William Blake (1757-1827)

He who bends to himself a joy
Does the winged life destroy;
But he who kisses the joy as it flies
Lives in eternity's sunrise.


Selasa, 14 Januari 2014

Tentang Cinta dari 'Aku Ingin'

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Aku Ingin
Sapardi Djoko Damono, 1989


Setelah kubaca puisi ini, aku diam tak bergeming. Sungguh menyayat hati. Segera kuingin padamkan kobaran api cemburu yang menghanguskan keceriaanku. Segera kuingin padamkan kobaran api amarah yang merampas kesukaanku padanya. Seharusnya, aku mencintai dengan sederhana.

Di dalam sebuah kesederhanaan, aku ingin sebuah rahasia bersemayam.
Di dalam sebuah kesederhanaan, ada cinta yang tak terungkap, ada cinta yang tak diketahui.
Cukup pada dirinya sendiri, cinta itu bergelora hingga waktu padamnya.

Aku senang menemukan puisi ini. Ya, telah aku hafal puisi ini.
Puisi ala Sapardi ini mengajarkanku untuk mencintai tulus apa adanya seturut masanya, walaupun tak sempat diutarakan hingga tak terbalas.
Cukup pada kesederhanaannya, ketulusan sifatnya, cinta itu bersemayam tanpa perlu diketahui apalagi dihargai.



Selasa, 31 Desember 2013

18 Jam Menuju 2014

Waktu berlari, aku merangkak. Waktu berjalan, aku terkapar. Waktu berhenti, aku hilang.

Kurasa kami selalu berlomba, tetapi hasilnya selalu sama. Aku tak bisa menyamai Waktu. Aku selalu tanpa daya melawannya. Memang aku ini, kita ini hidup di dalam waktu. Apakah karena itu aku selalu merasa Waktu jauh lebih cepat daripada diriku?

Di kala perlombaan itu, kusadari bahwa tahun ini sangat dinamis. Terlalu banyak hal yang terjadi di luar dugaanku. Terlalu banyak tawa dan tangisan yang kuutarakan pada langit. Terlalu banyak seruan kebahagiaan dan ratapan yang kukumandangkan pada angkasa. Terlalu banyak rahasia hati yang kubisikkan pada Tuhan.

Kadang, aku tertidur dibawa Waktu. Aku terhanyut di dalam suasana, aku dibutakan oleh berbagai aroma manis nan harum bumbu-bumbu kehidupan. Kemudian, ada satu titik di mana aku terbangun, diasadarkan dari mimpi. Aku kembali ditarik dan dituntun ke jalan yang lurus dan tidak selalu mulus. Tidak selalu mulus, ya, itulah yang memberi warna di hidup ini, di waktu-waktu ini.

Tahun ini begitu dinamis. Banyak hal yang terjadi lebih dari yang kuminta. Banyak hal yang terjadi lebih dari yang kukira. Namun, yang terindah adalah Tuhan selalu memampukanku melewati semua itu. Tuhan selalu menopangku dan menuntunku.

Berbagai peristiwa melanda, lika-liku pikiranku membentuk bermacam-macam pandangan baru dan kesadaran baru. Semua itu tak lepas dari bimbingan-Nya. Semua itu tak lepas dari anugerah-Nya. Semua itu tak lepas dari kedaulatan-Nya.

Kepada orang-orang yang kusakiti, aku minta maaf. Sengaja atau tidak sengaja, terpaksa atau tidak terpaksa, aku menyesal atas semua perlakuan kejiku itu.

Kepada sahabat-sahabat yang telah melewati tahun 2013 ini bersamaku, aku doakan yang terbaik untuk kalian semua. Kiranya tali persahabatan ini tidak akan kendur dimakan waktu, malah justru dipererat seiring berjalannya waktu.

Kepada orang tuaku yang selalu mendoakanku, kalian tak tergantikan.

Kepada Tuhan yang selalu menuntunku, tanpa pertolongan-Mu, tanpa bimbingan-Mu, aku tidak akan meyadari kasih setia-Mu padaku. Terima kasih Tuhan atas seluruh anugerah-Mu, pahit manis kehidupan sepanjang tahun 2013 ini.

Aku berdiri di sini, 18 jam menuju tahun 2014. Tuhan, kuserahkan tiap detik berikutnya kepada-Mu.

Soli Deo Gloria...



Selasa, 29 Oktober 2013

You're Just A Glimpse of An Unforgettable Memory

That moment, it was like everything stopped for a second. 

You saw me first. Our eyes met. I caught a breath and couldn't believe what was happening. Finally, we met again. I quickly ran my view to the crowds, but you didn't. You still looked at me for another second. Then, you held your head down, kept walking, leaving me behind. The past just happened again.

Now, there you are standing in the back of my mind. Without asking for any permission, the past immediately creeps into me again. The truth is sometimes I still recall that moment, years ago when we were younger and stepped into this kind of experience also.

Never thought I would meet you again, but I did keep wishing for this to happen. Among the crowds, our eyes met. Again. Unfortunately, this is not a drama. This is not a movie. None of us made a move. I do realize that it's just my flesh, my mortal emotion, that wants us to know each other, to want to keep remembering you, to think or dream of sweet things for us too seriously.

I do realize, I do know that I've got my part. I've got someone here. I do realize that you're just a glimpse of an unforgettable memory. I do realize that I shouldn't hope for anything more than it should it be.




Minggu, 06 Oktober 2013

Sebuah kacamata dari Kedua Sobatku

Ini hanyalah selampir tulisan singkat yang terinspirasi dari dua pribadi sahabatku.

Begitu optimis, sehingga terkadang dianggap terlalu tinggi berharap dan berekspektasi. Segala dugaannya yang membangkitkan harapannya, terkesan sebagai 'obat' dan pelarian baginya untuk melihat dan mengakui fakta sesungguhnya. Ketika ia sudah celik, ia bisa jatuh terjerembab. Untungnya, dia selalu bangkit dan tegar menghadapi fakta yang seharusnya ia hadapi sejak dulu.

Begitu pesimis, sehingga terkadang dianggap terlalu rendah menilai diri sendiri dan miskin harapan. Entah ia menyadarinya atau tidak, ia selalu mengganggap dirinya tidak bisa apa-apa. Padahal, kemampuannya di atas yang ia kira. Padahal, ia memiliki banyak potensi. Namun, ia ditutupi oleh kepesimisan itu. Sisi positifnya, ia selalu mawas diri dan berlogika tinggi. Berbagai rangkaian pikiran ia susun dan jarang orang yang bisa memenangkan perdebatan dengannya. Mungkin, itulah hasil dari berjaga-jaga karena terlalu banyak melihat hal negatif di sekitarnya. 

Keduanya amat bertolak belakang. Keduanya bisa dibilang sama-sama ekstrem. Keduanya bisa dibutakan. Yang satu, dibutakan oleh keoptimisannya. Yang satu, dibutakan oleh kepesimisannya. Singkat kata, bagiku kedua sobatku ini menyimpulkan satu hal. Satu hal yang bisa dikatakan menjadi kacamataku, yaitu penilaian diri dan situasi yang benar (tidak teralu rendah dan tidak terlalu tinggi) amat penting karena berpengaruh bagi pembawaan diri dan pola pikir kita.

Sabtu, 05 Oktober 2013

Kali Ini Sungguh Berbeda

"Kali ini sungguh berbeda."
Kau katakan hal itu dalam hatimu
Kau utarakan hal itu pada dunia
"Kali ini sungguh berbeda."
Kau renungkan hal itu dalam hari-harimu
Kau pikirkan itu dengan bertanya-tanya

Lembaran baru itu sangat menyukakan hati
Apa yang telah terjadi penuh di luar ekspektasi
Apa yang telah mengisi lembaran baru itu
Sungguh membuat jiwa ini terharu
Luar dan dalam amatlah manis
Menjadikan harapan tiada terkikis

Hal yang tak disangka-sangka akan terjadi
Telah terjadi dengan gejolak lembut
Membuahkan suatu permata berharga nan gemilang
Awalnya tiada bayangan seperti itu di hati kecil ini
Namun, hidup berkata lain
Tuhan telah memiliki rencana

Kiranya apa yang telah dibangun akan semakin diperkokoh
Kiranya apa yang telah dijadikan fondasi
Selamanya akan tetap tegar dan terus mengakar
Waktu berjalan, pendewasaan mengiringi
Waktu melangkah, kedua jiwa semakin terpaut
Waktu berlalu, mahakarya ini 'kan s'lalu kuingat

Sungguh manis dan lembut
Sungguh cerah dan ceria
Sungguh menawan dan memikat
Sungguh indah dan cemerlang
Sungguh berbeda
Terima kasih Tuhan